Minggu, 15 Januari 2012

PENDEKATAN-PENDEKATAN HUMANISTIK DALAM PENGAJARAN

P R E V I E W

Para Humanis menolak apa yang mereka lihat sebagai tekanan-tekanan mekanistik dan dehumanisasi terhadap pendekatan-pendekatan tradisional dalam psikologi pendidikan. Mereka menghimbau untuk mengadopsi sikap, konsep, dan pendekatan baru dalam bidang ini. Dalam bab ini kita menguraikan karakteristik pokok dari pendekatan- pendekatan Humanistik tentang pemahaman dalam pengajaran. Hal paling utama adalah bahwa humanisme, behaviorisme, dan kognitifisme dapat saling dicocokkan. Para guru dapat melakukan segala hal yang baik, yang mana humanisme menegaskan dan masih menggunakan pengetahuan yang ditawarkan oleh pendekatan-pendekatan lain.

F O K U S P E R T A N Y A A N

¨ Bagaimana Humanisme berbeda dari pendekatan - pendekatan lainnya?

¨ Apakah prinsip- prinsip dari teori Carl Rogers?

¨ Apa itu pendidikan Humanistik?

¨ Apa yang dimaksud dengan kelas terbuka?

¨ Apakah strategi- strategi utama dalam pembelajaran kooperatif?

A. P S I K O L O G I H U M A N I S T I K

Psikologi Humanistik berkenaan dengan keunikan, individualitas, humanitas dari tiap pribadi. Di dalam banyak terminologi manusia, Humanisme didasarkan pada pengamatan yang mendasar, walaupun kita mungkin menyerupai satu sama lain dalam banyak hal, tapi masing-masing dari kita agak berbeda dari yang lain. Keunikan kita adalah “diri” kita. Dan diri adalah konsep paling utama di dalam Psikologi Humanistik.

Psikologi Humanistik: salah satu cabang dari psikologi yang memberi perhatian utama terhadap pengembangan diri dan keunikan individu. Kadang-kadang dikenal sebagai psikologi kekuatan ketiga; selain dua kekuatan lain yaitu Behaviorisme dan Teori Freud.

Psikologi Humanistik mempunyai basis di dalam filsafat - khususnya dalam filsafat eksistensial dari para penulis seperti Jean- Paul Sartre. ( Lihat Contat, 1974; Martin Buber, 1958, 1965; dan Karl Jaspers, 1962, 1963.) Para ahli filsafat ini ingin tahu tentang tujuan dan sifat serta eksistensi manusia (eksistensialisme). Mereka sangat memperhatikan apa artinya menjadi manusia dan bagaimana manusia tumbuh dan mengekspresikan dirinya pada setiap individu.

Eksistensialisme: Salah satu Perubahan filosofis yang dicirikan oleh suatu kesenangan akan eksistensi. Para ahli filsafat eksistensial sering menguraikan kondisi manusia yang berkenaan dengan penundaan, kesunyian, keputus-asaan, dan pengasingan. Perasaan-perasaan ini diasumsikan untuk bangkit dari ketiadaan pengetahuan tertentu kita tentang asal-asul dan hari akhir kita. Karenanya bernama eksistensialisme, merupakan kenyataan yang dapat dikenal yakni eksistensi.

1. Humanisme vs Pandangan- pandangan lain dalam Psikologi

Apakah ini juga berkenaan dengan psikologi Humanistik. Ini menjelaskan mengapa para humanis tidak selalu bahagia dengan keasyikan dan perhatian terhadap ilmu pengetahuan. Para humanis menyatakan dengan tegas, Ilmu pengetahuan cenderung mendehumanisasi (tidak berprikemanusian) pada orang lain. Hal ini kurang dalam penyamarataan dan generalisasi; nampaknya, hanya untuk yang bersifat umum dan dapat diramalkan. Dan mengabaikan hal-hal yang bersifat pribadi dan individual serta yang unik. Sebagian besar, karena secara historis hal ini telah bertentangan antara pendekatan- pendekatan humanisme dan behavioristik atau kognitif. Pertentangan tersebut merefleksikan orientasi- orientasi yang secara fundamental berbeda dalam hal sikap dan keyakinannya terhadap manusia.

Singkatnya, apa yang ditolak oleh humanis adalah apa yang mereka lihat sebagai orientasi teknologi terhadap pendekatan-pendekatan seperti behaviorisme. Dalam formatnya yang paling ekstrim, orientasi teknologi ini menyatakan bahwa proses-proses pengajaran tertentu bisa diidentifikasi, kalau yang digunakan tipe siswa yang satu untuk jenis konten yang satu pula, akan memberikan hasil yang dapat diprediksi dalam pencapaian yang spesifik, sebelumnya diidentifikasi, dan tujuan yang dimaksudkan sangat jelas. Para humanis menolak dengan keras pada orientasi proses- produk ini. Seperti yang Shulman (1986) amati, mereka melihat ini sebagai fokus yang terlalu bergantung pada teknik- teknik yang ”harus” dipraktekkan oleh para guru dan terlalu banyak penekanan pada hasil yang diukur dari proses pengajaran/ pembelajaran, terutama yang berkenaan dengan perolehan test- test yang distandarisasi. Para humanis diingatkan bahwa kesimpulan dan rekomendasi dari proses- penelitian produk telah sering digunakan oleh otoritas-otoritas sekolah sebagai salah satu dasar untuk mengevaluasi sistem persekolahan, para guru, dan pengajaran. Tekanan-tekanan tradisional pada gaya pengajaran dan hasil-hasil pengajaran, (catatan Ornstein, 1993a), mengabaikan aspek Humanistik tentang pengajaran.

TEORI HUMANISTIK ROGERS

Sebagai bentuk pengenalan mengenai humanisme, awalnya kita lihat pada ringkasan Carl Rogers yang berhubungan dengan personality dan behavior; kemudian kita menguji beberapa pendekatan terhadap pendidikan yang mencerminkan orientasi Humanistik. (diantaranya Rogers yang merupakan ahli teori paling berpengaruh di area ini; Abraham Maslow, Humanis penting lainnya, akan dibahas dalam Bab 11.)

Carl Rogers awalnya adalah psikoterapis terkemuka. Perhatian utamanya adalah pada pemahaman kepribadian manusia untuk memahami bagaimana hal itu bisa diubah, bagaimana kebahagiaan hidup kembali dari kesedihan (Rogers: 1957). Teorinya muncul sebagai reaksi terhadap pendekatan populer lainnya dalam terapi seperti Behaviorisme dan teori Freud. Rogers merasakan betul bahwa pendekatan ini sedikit lebih jauh dari humanisasi yang seharusnya mereka lakukan, catatan Becvar dan Becvar (1997).

Tulisan Rogers tidak didasarkan pada data objektif yang banyak sebagai jawaban atas pertanyaan- pertanyaan tentang apa yang individu pikirkan tentang dunia. Bagaimana perasaan mereka? Bagaimana hubungan mereka dengan yang lainnya? Kondisi apa yang menjadikan mereka berubah? Teori Rogers berlanjut sampai pada pengaruh psikoterapi dan konseling. Hal tersebut juga ditawarkan bagi para guru mengenai pendekatan berbeda dalam komunikasi dengan siswa mereka. Dalam perkataan dari putri Rogers, Natalie,”...Dia membuktikan dugaan bahwa keamanan, lingkungan yang mendukung masing-masing orang (termasuk anak-anak) terhadap alur diri, penemuan, penghargaan dan diarahkan pada belajar " ( Rogers & Freiberg, 1994, p. iii).

1. Istilah-Istilah Utama dalam Teori Rogers

Terminologi berbeda digunakan untuk menguraikan berbagai penekanan dari teori Rogers. Label yang biasanya digunakan, client- centered therapy (juga person- centered therapy), menguraikan beberapa aspek sistem. Ini menandai, pertama, bahwa teori adalah satu terapi; yaitu, dirancang berguna bagi konselor yang berhubungan dengan permasalahan emosional dan tingkah laku. Kedua, label ini menyoroti perbedaan utama pendekatan ini dengan pendekatan lain dalam konseling, yakni, ini menunjukkan bahwa prosedur-prosedur konseling berputar di sekitar setiap individu. Hal itu mengusulkan client- centered berlawanan dengan terapi direktif. Peran konselor dalam terapi client- centered tidak ditekankan; Ahli terapi, memberi nasihat atau pemecahan permasalahan klien, yang dibentuk sedemikian rupa sehingga klien sendiri yang menggambarkan permasalahan mereka, bereaksi kepada mereka, dan bertindak terhadap solusi mereka. (Proses ini sebenarnya lebih kompleks dibandingkan yang nampak dari pernyataan- pernyataan terdahulu; lihat Rogers, 1951, 1957.)


Terapi c1ient- centered: tipe tentang hubungan pasien - konselor. Konselor (terapis atau psikiatris) tidak secara direktif menceritakan klien bagaimana mereka perlu bertindak melainkan mencoba untuk mengijinkan pasien untuk mengekspresikan diri mereka dan menemukan cara mereka sendiri dengan perilaku mereka sendiri. Pendekatan terapi ini secara umum berbandingan dengan terapi direktif. Diistilahkan juga terapi person- centered.

Konseling: Tindakan memberi nasihat.

Terapi direktif: tipe tentang hubungan klien – konselor dimana konselor bertanggung jawab utama untuk mengarahkan perilaku klien.


Istilah umum yang kedua dalam teori Rogers adalah fenomenologi, satu istilah yang menandakan perhatian terhadap dunia yang dirasa oleh individu, bukannya apa dunia itu sebenarnya. Para guru dan konselor tidak mengetahui betul pribadi setiap individu, dunia secara fenomenologi, catatan Rogers. Tetapi menjadi efektif, yakni mereka harus mencoba memahami. Maka, empati adalah karakterteristik penting dari pendidik humanistik manapun (Bozarth, 1997).

Fenomenologi: pendekatan yang terkait utama dengan bagaimana individu memandang dunia mereka sendiri. Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap individu merasa dan bereaksi terhadap dunia dalam suatu cara yang unik dan ini merupakan fenomenologi pandangan dunia adalah penting untuk memahami perilaku individu.


Label Rogers yang ketiga adalah humanisme. Humanisme dalam literatur, filosofi, dan psikologi menurut sejarah terkait dengan nilai manusia, individualitas, dan hak setiap individu untuk menentukan tindakannya. Maka, pengembangan potensi manusia cenderung dinilai tinggi, sedangkan pencapaian tujuan materi tidak ditekankan. Dengan begitu, Rogers menguraikan aktualisasi diri sebagai akhir dari semua yang manusia kerjakan. Dorongannya terhadap terapi client- centered juga dapat dipertukarkan dengan penekanan para humanis dalam determinasi pribadi. Sesungguhnya, pertanyaan tentang determinasi pribadi berlawanan dengan kontrol eksternal, bersamaan dengan pertimbangan permasalahan secara praktis dan etis tentang penerapan pengetahuan behavior, sebagai subjek debat terkenal antara Rogers dan Skinner (1956).


Humanisme: Satu orientasi psikologis dan filosofis terutama terkait dengan humanitas - yaitu, nilai- nilai sebagai individu dan proses- proses yang dipertimbangkan untuk membuat kita lebih manusiawi.

Aktualisasi diri: Proses atau tindakan menjadi dirinya, pengembangan kemampuan diri, keberhasilan seseorang sebagai kesadaran dari identitas seseorang; pemenuhan diri. Istilah ini adalah inti dari psikologi Humanistik.

2. Debat Kontrol Perilaku: Rogers vs Skinner

Isu utama dalam debat ini menekankan tentang aplikasi teknik kontrol behavior untuk kontrol pribadi dalam kelompok sosial, untuk prosedur pendidikan, dan untuk pemerintahan. Skinner mengekspresikan perhatiannya bahwa gagasan dan prosedur nonscientific mengaburkan pikiran kita tentang tentang tingkah laku manusia. Ia membantah keras penerapan ilmiah secara terbuka, teknik-teknik behavioristik, dari kontrol positif ke arah perbaikan masyarakat - dan pada waktu yang sama, menunda banyak teknik-teknik kontrol berlawanan yang begitu luas digunakan. ( Topik-topik ini adalah basis dari novelnya 1948, Walden II, masyarakat fiktif berkembang melalui aplikasi teknologi tingkah laku.)

Tetapi, klaim Rogers, Skinner meremehkan masalah kekuatan dengan membuat asumsi salah dari teknik pengawasan sosial yang akan digunakan dalam masyarakat. Lebih lanjut, Skinner gagal menetapkan siapa yang akan mengontrol masyarakat, siapa yang akan dikontrol, dan apa tujuan untuk teknologi behavior sebenarnya. Rogers membubarkan klaimnya skinner bahwa jika para ilmuwan behavior mengadakan percobaan dengan masyarakat, ”secepatnya praktek-praktek yang membuat kekuatan terbesar kelompok biologi dan psikologi kiranya akan bertahan" (Skinner, 1955, p. 549). Sebagai gantinya Rogers membantah bahwa tujuan masyarakat harus terkait terutama dengan proses ”menjadi,” menuju keberhasilan nilai dan martabat, menjadi kreatif - singkatnya, dengan proses aktualisasi diri.

Debat ini memecahkan tidak ada isu; Itu hanya menunjukkan konflik pokok antara mereka yang menyukai kontrol manusia (untuk keuntungan kita) melalui aplikasi bijaksana pengetahuan behavior dan mereka yang percaya bahwa ilmu pengetahuan tidak seharusnya digunakan untuk perubahan atau mengontrol kita tetapi hanya meningkatkan kapasitas kita untuk mengontrol dan determinasi diri sendiri.

3. Prinsip-Prinsip Teori Rogers

Di Dalam Bab 11 dari terapi Client-Centered (1951), Rogers menyajikan tanggung jawab yang terintegrasi dari posisinya dalam wujud 19 dalil (lihat juga Rogers, 1992, cetakan ulang dari artikel 1957). Kebanyakan gagasan berlanjut sampai hari ini yang mendasari praktek-praktek konseling Rogers dan aplikasi Humanistik bagi pendidikan (Kirschenbaum, 1991). Gagasan paling utama yang diringkas disini (lihat juga Tabel 7.1). Pemahaman prinsip ini penting untuk pemahaman dasar dalam berbagai pendekatan sampai pendidikan Humanistik diuraikan kemudian dalam bab ini.

· Dunia kita adalah Tersendiri, Fenomenologis. Salah satu pernyataan tegas yang paling fundamental dari para ahli fenomenologi adalah bahwa setiap individu adalah pusat pengalaman pribadi menuju perubahan dunia secara terus- menerus. Hal ini untuk mengenali dua fitur fungsi manusia yang penting untuk guru.

Pertama, itu berimplikasi bagi siapapun, aspek penting lingkungan adalah pribadi.

Kedua, prinsip ini menyarankan tidak hanya bahwa fenomenologi dunia bagi indvidu adalah bersifat pribadi tetapi juga bahwa itu tidak pernah sepenuhnya dikenal oleh yang lain. Pertimbangkan, sebagai contoh, keluhan sederhana anak pada ibunya setelah bangun dari mimpi buruk: " Mama, saya takut." Ketakutan anak menyatakan adalah satu aspek penting dan nyata dari dunianya, dan ibu nya boleh menggunakan memori ketakutan masa lampaunya untuk membayangkan apa yang dirasakan anaknya. Tetapi dia tidak mengetahui betul ketakutan anaknya. Fenomenologi dunia tidak pernah dapat dibagi bersama secara penuh.

Kepercayaan implisit dalam prinsip pertama ini - secara rinci berarti pribadi dan tidak bisa secara penuh dibagi – merupakan pusat bagi pendekatan konstruktifistik bagi pendidikan.

Karakteristik Utama dari Kepribadian Manusia

menurut Rogers (1951)

Prinsip

Klarifikasi

1. Dunia kita adalah privasi; kenyataan adalah fenomenologikal

2. Perilaku dapat dipahami hanya dari segi pandangan individual

3. Tujuan dari eksistensi manusia adalah aktualisasi diri

4. Kita membangun diri kita sendiri.

5. Perilaku-perilaku konsisten dengan ide atau gagasan diri.

Aspek penting dari kenyataan ditemukan dalam pengalaman dunia pribadi. Kenyataan kemudian dengan sepenuhnya bersifat Indidualistik. Mereka dapat dirasakan tetapi tidak diketahui orang lain

Pengalaman pribadi kita menentukan realitas kita. Karena perilaku terjadi dalam konteks realitas personal, cara terbaik untuk memahami perilaku seseorang adalah mencoba untuk mengadopsi pandangannya; karenanya, humanisme menekankan pentingnya komunikasi terbuka dan empati

Masing-masing dari kita mempunyai tendensi dasar untuk bekerja keras secara komplit, sehat, kompetensi individu melalui suatu proses yang ditandai oleh penguasaan diri, pengaturan diri, otonomi

Kita menemukan siapa diri kita pada dasarnya dari pengalaman, kepercayaan dan nilai bahwa kita menyertakan kedalam konsep diri kita dari informasi yang disajikan oleh orang-orang yang berkomunikasi kepada kita tentang apakah kita

Secara umum, kita memilih perilaku-perilaku yang tidak kontradiksi dengan siapa dan apa yang kita pikir tentang kita

Pendekatan Konstruktivis: label umum untuk metode instruksional adalah learner- centered dan merefleksikan kepercayaan bahwa informasi yang bermakna dikonstruksi oleh para siswa dibandingkan yang diberikan ke mereka. Seringkali dibandingkan dengan direct instruction, pendekatan konstruktivis direfleksikan dalam discovery learning, masa magang teori, dan pendekatan Humanistik dalam mengajar.

· Perilaku dapat dipahami hanya dari Perspektif Individual. Kita bereaksi terhadap dunia sebagaimana yang kita alami dan rasakan; itu kenyataan. Apa yang kita rasakan, dilabelkan phenomenal field, menyusun kesadaran dengan segera. Dan karena bidang ini digambarkan dalam pengalaman pribadi individu, kenyataan juga adalah privasi. Oleh karena itu, kenyataan bagi seseorang bukanlah kenyataan bagi yang lainnya. Seorang siswa yang menyukai gurunya, bukan masalah bagaimana guru itu bagi para siswa lainnya, sudahkah seorang guru menyenangkan dalam phenomenal field - dan perilakunya terhadap gurunya akan merefleksikan kenyataan. Inilah alasan mengapa penting untuk seorang guru memahami bahwa para siswa merasa dunia mereka dengan cara berbeda. Jika para guru lebih dekat memahami siswa mereka, mereka harus mencoba untuk mengadopsi pandangan mereka. Ini bukanlah kejadian dimana guru yang nampaknya memahami siswa yang terbaik adalah seringkali digambarkan sebagai empathetic (mampu merasakan bagaimana perasaan orang lain). Sesungguhnya, empati adalah salah satu karakteristik paling utama dari kesuksesan terapis Rogers (Parse, 1998).




Bidang fenomenal: merasakan, persepsi, dan kesadaran bahwa setiap individu telah diberikan di setiap moment.




· Tujuan dari Eksistensi Manusia adalah Aktualisasi Diri.

Salah satu cara untuk mendefinisikan Aktualisasi Diri adalah harus mengatakan bahwa hal itu melibatkan apapun juga melalui aktivitas yang ditentukan sendiri (Maslow, 1970). Dengan kata lain, untuk diaktualisasikan harus menjadi aktual atau nyata, untuk mengembangkan kemampuan diri.

Rogers menjelaskan, Aktualisasi Diri, merupakan proses directional dalam dua pengertian: Pertama, hal itu menuju ke arah pengembangan, peningkatan kompetensi, kelangsungan hidup, reproduksi, dan seterusnya.

Secara ringkas, Rogers percaya bahwa manusia mempunyai bagian dalam diri (inner), pengarahan untuk fungsi pengembangan diri, kompetensi , dan kreatif. Hal ini adalah dasar untuk memahami pandangan humanis dari orang-orang sebagai sesuatu esensi bagus dan selamanya bekerja keras ke arah status yang lebih baik.

· Kita Membangun Diri Kita Sendiri.

Dua sumber informasi penting yang berhubungan dengan pengembangan diri. Pertama adalah pengalaman langsung anak- anak – pengalaman menjadi yang dicintai dan diinginkan dan perasaan baik sebagai hasilnya, pengalaman-pengalaman menyakitkan konsekuensi perwujudannya adalah diri kita tidak suka disakiti. Pengalaman-pengalaman ini langsung mendorong kearah pengembangan kesadaran diri.

Anak- anak juga mengalami kejadian tidak langsung dengan diri mereka, sering dengan berbagai hal yang diberitahu ("Kamu begitu cerdas, Guy. Anak yang baik"). Pengalaman ini menyokong juga untuk pengembangan diri. Pengalaman seperti ini melatih dugaan positif diri. Tetapi umpan balik negatif (seperti nilai kelas yang rendah atau suara galak orang- orang ketika kamu mengatakan sesuatu, seperti ”punyaku, punyaku, lihat hidung anak kambing itu, maukah anda!”) dapat mendorong kearah konsep diri negatif.

4. Evaluasi Fenomenologi Rogers

Banyak aspek penting dari pandangan-pandangan Rogers dari behavior nampaknya benar. Ini nampak jelas bahwa masing-masing individu merasa dunia dalam satu cara yang tidak dialami orang lain. Ini juga nampak jelas, untuk memahami yang lain, mungkin saja berguna untuk mengadopsi pandangan mereka. Bagaimanapun, beberapa aspek dari dalil-dalil ini tidak begitu jelas. Khususnya, makna istilah aktualisasi diri tidak selalu jelas.

Pendekatan Rogers adalah jelas subjektif dan tidak sangat ilmiah. Yaitu, tidak didasarkan pada penelitian seksama. Meskipun demikian, berjasa untuk kemajuan ilmu pengetahuan bisa dipertimbangkan; sangat bersifat spekulatif kadang-kadang menghasilkan gagasan penuh keberhasilan. Teori ini telah dipunyai, dan berlanjut, berdampak luar biasa terhadap konseling dan pengajaran (Ryan, Hawkins, & Russell, 1992; Parse, 1998).

Sebagai salah satu alternatif terhadap teknologi Behavioristik Skinner, Rogers mengusulkan lima model untuk mengontrol perilaku manusia (Rogers & Skinner, 1956, pp. 1063-1064):

§ Hal ini memungkinkan kita memilih untuk menilai humanitas sebagai proses aktualisasi diri – dan juga menghargai kreativitas dan proses kita memperoleh pengetahuan.

§ Ilmu pengetahuan dapat membantu kita untuk menemukan kondisi yang didorong kearah pengembangan proses dan dapat menyediakan cara yang lebih baik menuju keberhasilan.

§ Hal ini memungkinkan individu atau kelompok membentuk kondisi untuk pertumbuhan tanpa memilih kekuatan kontrol eksternal. Pengetahuan yang ada menyatakan bahwa satu- satunya otoritas para guru memerlukan otoritas untuk menetapkan kualitas tertentu dari hubungan antar pribadi.

§ Individu menunjukkan ke kondisi-kondisi ini menjadi lebih bertanggung jawab, mendapat kemajuan dalam aktualisasi diri, dan menjadi lebih fleksibel dan lebih adaptif kreatif.

§ Pilihan nilai-nilai Humanistik ini akan mendorong kepermulaan sistem sosial dimana nilai-nilai, pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan adaptip, dan bahkan konsep ilmu pengetahuan akan secara terus menerus berubah dan tumbuh.

Carl Ransom Rogers lahir pada tanggal 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinios, Chicago. Rogers meninggal dunia pada tanggal 4 Pebruari 1987 karena serangan jantung.

Latar belakang: Rogers adalah putra keempat dari enam bersaudara. Rogers dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan dan menganut aliran protestan fundamentalis yang terkenal keras, dan kaku dalam hal agama, moral dan etika. Rogers terkenal sebagai seorang tokoh psikologi humanis, aliran fenomenologis-eksistensial, psikolog klinis dan terapis, ide - ide dan konsep teorinya banyak didapatkan dalam pengalaman -pengalaman terapeutiknya

Ide pokok dari teori - teori Rogers yaitu individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah - masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri.

Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa kanak - kanak seperti yang diajukan oleh aliran freudian, misalnya toilet trainning, penyapihan ataupun pengalaman seksual sebelumnya.

Rogers lebih melihat pada masa sekarang, dia berpendapat bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan mempengaruhi juga kepribadiannya. Namun ia tetap berfokus pada apa yang terjadi sekarang bukan apa yang terjadi pada waktu itu.

Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi -potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak - kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis.

Rogers dikenal juga sebagai seorang fenomenologis, karena ia sangat menekankan pada realitas yang berarti bagi individu. Realitas tiap orang akan berbeda - beda tergantung pada pengalaman - pengalaman perseptualnya. Lapangan pengalaman ini disebut dengan fenomenal field. Rogers menerima istilah self sebagai fakta dari lapangan fenomenal tersebut.

Konsep diri menurut Rogers adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku. Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi, yaitu Incongruence dan Congruence. Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin. Sedangkan Congruence berarti situasi di mana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati.

Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat).

Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positip tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.

Lima sifat khas orang yang berfungsi sepenuhnya (fully human being):

1. Keterbukaan pada pengalaman .Orang yang berfungsi sepenuhnya adalah orang yang menerima semua pengalaman dengan fleksibel sehingga selalu timbul persepsi baru. Dengan demikian ia akan mengalami banyak emosi (emosional) baik yang positip maupun negatip.

2. Kehidupan Eksistensial .Kualitas dari kehidupan eksistensial dimana orang terbuka terhadap pengalamannya sehingga ia selalu menemukan sesuatu yang baru, dan selalu berubah dan cenderung menyesuaikan diri sebagai respons atas pengalaman selanjutnya

3. Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri .Pengalaman akan menjadi hidup ketika seseorang membuka diri terhadap pengalaman itu sendiri. Dengan begitu ia akan bertingkah laku menurut apa yang dirasanya benar (timbul seketika dan intuitif) sehingga ia dapat mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi dengan sangat baik.

4. Perasaan Bebas .Orang yang sehat secara psikologis dapat membuat suatu pilihan tanpa adanya paksaan - paksaan atau rintangan - rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang yang bebas memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya sendiri, tidak pada peristiwa di masa lampau sehingga ia dapat meilhat sangat banyak pilihan dalam kehidupannya dan merasa mampu melakukan apa saja yang ingin dilakukannya.

5. Kreativitas .Keterbukaan diri terhadap pengalaman dan kepercayaan kepada organisme mereka sendiri akan mendorong seseorang untuk memiliki kreativitas dengan ciri - ciri bertingkah laku spontan, tidak defensif, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam di sekitarnya.

Kelemahan atau kekurangan pandangan Rogers terletak pada perhatiannya yang semata - mata melihat kehidupan diri sendiri dan bukan pada bantuan untuk pertumbuhan serta perkembangan orang lain. Rogers berpandangan bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan seorang partisipan yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya.

Selain itu gagasan bahwa seseorang harus dapat memberikan respons secara realistis terhadap dunia sekitarnya masih sangat sulit diterima. Semua orang tidak bisa melepaskan subyektivitas dalam memandang dunia karena kita sendiri tidak tahu dunia itu secara obyektif.

Rogers juga mengabaikan aspek - aspek tidak sadar dalam tingkah laku manusia karena ia lebih melihat pada pengalaman masa sekarang dan masa depan, bukannya pada masa lampau yang biasanya penuh dengan pengalaman traumatik yang menyebabkan seseorang mengalami suatu penyakit psikologis.

Falsafah Client-Centered CounselingClient Centered Counseling (disingkat CCC) sering disebut sebagai konseling non direktif.

Pencetus teknik konseling ini adalah Carl Rogers. Sebelum membahas lebih jauh, penulis akan memaparkan terlebih dahulu falsafah yang mendasari munculnya teknik CCC ini. Ada lima falsafah yang melatarbelakangi munculnya Client Centered Counseling

a. setiap manusia berhak mempunyai pandangan-pandangannya sendiri, menentukan haluan hidupnya sendiri, dan mengejar kepentingannya sendiri. falsafah yang pertama ini mengandung tiga hal. Setiap manunisa berhak mempunyai pandangan-pandangannya sendiri berati bahwa pandangan seseorang tidak harus sama dengan pandangan-pandangan orang lain. Setiap orang berhak menentukan apa yang dianggap baik menurut dirinya, dan apa yang dianggap tidak baik menurut dirinya. Jadi, tidak ada yang berhak melarang orang lain memiliki pandangan yang berbeda. Selanjutnya, setiap orang berhak menentukan haluan hidupnya sendiri. Seseorang mau menjadi apa, dia berhak untuk memutuskan sendiri. Orang lain tidak berhak ikut campur tangan. Kemudian, setiap orang berhak mengejar kepentingannya sendiri. Kita tahu bahwa kepentingan masing-masing orang dalam hidup ini tidak sama. Orang lain tidak berhak melarang seseorang yang sedang mengejar kepentingannya. Misalnya, suatu hari hampir semua orang dalam satu kampung ingin melakukan darma wisata. Sementara di hari yang telah ditentukan itu, ada satu orang yang ingin mengikuti tes masuk pekerjaan sehingga tidak bisa ikut darma wisata. Orang sekampung tersebut tidak berhak melarang satu orang yang ingin mengikuti tes masuk pekerjaan tersebut, karena satu orang tersebut memiliki kepentingan yang menurut dia lebih penting.

b. sebenarnya setiap manusia berakhlak baik, jika menjadi tidak baik perbuatannya itu bukan merupakan cerminan hati nuraninya tetapi karena dia ingin membela diri. Kita perhatikan tiga frase dalam falsafah tersebut, yaitu:

(1) berakhlak baik,

(2) hati nurani, dan

(3) membela diri.

Ini berarti bahwa jika seseorang berbuat tidak baik, dia masih bisa kita tolong menjadi kembali baik. Caranya dengan mengembalikan dirinya kepada apa kata hati nuraninya. Ini bukan tugas yang mudah, karena dibutuhkan pemahaman yang tinggi dari konselor. Konselor yang tidak mampu memahami klien akan cepat marah ketika melihat klien berbuat tidak baik.

c. di dalam diri setiap manusia terdapat kecenderungan untuk mengembangkan diri secara maksimal (actualizing tendency). Setiap orang, tanpa kecuali, menginginkan agar hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Hari esok lebih baik daripada hari ini. Hari kemarin tidak bisa, maka hari ini harus bisa, dan esok harus lebih bisa. Itulah keinginan setiap orang. Kecenderungan tersebut diharapkan secara maksimal, artinya tidak sekedar berkembang, tetapi berkembang hingga batas yang paling atas. Anak kecil ingin bisa hebat seperti ayahnya atau ibunya. Anak remaja ingin menjadi menguasai berbagai keterampilan. Orang dewasa ingin menjadi pemimpin, ingin menjadi kaya raya, ingin memiliki pangkat atau jabatan yang tinggi.

d. cara individu memecahkan masalahnya selalu sesuai dengan pandangan-pandangannya sendiri. Tidak percaya??? Kumpulkan sepuluh orang yang memiliki masalah yang sama, misalnya kesulitan ekonomi. Apakah kesepuluh orang tersebut memecahkannya dengan cara yang sama? Tidak. Masing-masing memecahkannya sesuai dengan pandangan-pandangannya sendiri. Pandangan-pandangan sendiri sering disebut sebagai dunia subjektif, atau phenomenal field. Artinya, suatu alam pikiran, alam perasaan, kebutuhan, dan keinginan yang hanya dapat dimengerti dan dihayati oleh yang bersangkutan; dan dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi dirinya dan mengevaluasi dunia luar dirinya. Orang lain sulit memahami dunia subjektif, tetapi konselor wajib berusaha memahaminya agar bantuan pemecahan masalah dapat sesuai.

e. seseorang mengalami masalah karena di dalam dirinya ada pertentangan antara the ideal self dan the real self. The ideal self adalah apa yang diinginkan, sedangkan the real self adalah apa yang menjadi kenyataan. Jika antara the ideal self dan the real self itu ada persamaan, seseorang tidak mengalami masalah. Sebagai contoh, seorang pemuda memiliki rencana menikah pada usia di bawah dua lima, agar kelak setelah menginjak usia lima puluhan semua anaknya sudah besar. Tetapi hingga usia tiga puluh belum ada wanita yang mau dinikahinya. Di sini ada pertentangan antara the ideal self (mau nikah muda) dan the real self (belum dapat jodoh). Dia mengalami kekhawatiran jangan-jangan kelak pada usia lima puluh anak-anaknya masih balita. Dia takut jangan-jangan dia meninggal tatkala anaknya belum dewasa.

Mengapa CCC disebut Non-Direktif? Direktif artinya bersifat ada pengarahan, non direktif artinya bersifat tidak ada pengarahan. Tidak ada pengarahan artinya urut-urutan proses konseling tidak ditentukan oleh konselor, tetapi oleh klien.

Klien bebas memulai pembicaraan dari mana saja. Konselor mengikuti saja apa maunya klien. Peran konselor sebagai fasilitator agar klien bisa mengekspresikan seluruh perasaannya, seluruh isi pikirannya. Yang paling tahu masalah klien adalah klien sendiri. Yang paling tahu kebutuhan klien adalah klien sendiri. Yang paling tahu seberapa berat masalah klien adalah klien sendiri..Tetapi mengapa klien datang ke konselor? Karena dia (klien) membutuhkan orang yang bisa meringankan beban perasaannya.

Klien ingin cur-hat kepada orang lain yang dianggapnya profesional, yaitu konselor. Dia ingin ada orang yang mau mendengarkan keluhan-keluhannya. Ketika klien ingin cur-hat, yang dia ucapkan adalah apa yang saat itu terlintas di kepalanya. Tidak peduli kalimat-kalimatnya itu urut atau tidak. Tidak peduli apa yang dikatakannnya itu logis atau tidak logis. Yang penting dia merasa PLONG.

Bagaimana jika diubah memakai urutan? Misalnya dimulai dari menyebutkan jenis masalahnya, dilanjutkan dengan sebab-sebabnya, diteruskan dengan upaya yang telah dilakukannya. Jika dilakukan urutan seperti itu, klien mungkin tidak puas. Lha wong dia mau cerita soal kejelekan sifat bekas pacarnya, misalnya, lha kok malah disuruh menyebutkan jenis masalahnya. Pusing dia.

Mendingan cur-hat sama temannya daripada sama konselor. Bagaimana jika di tengah klien bercerita tentang masalahnya, konselor langsung menyela dengan nasehat? Klien tidak puas. Dia belum saatnya butuh nasehat. Nanti saja jika klien sudah kehabisan cerita, konselor baru melakukan langkah tertentu. Lagi pula, nasehat yang diberikan konselor belum tentu sesuai dengan yang dikehendaki klien.

Bagaimana jika klien diam saja? Di sinilah seninya konseling non direktif. Sebagai fasilitator, tugas konselor adalah melakukan pancingan-pancingan psikologis agar klien mau bicara. Jika klien tetap tidak mau bicara, tetapi dia tetap meminta bantuan kita? Di sini faktor pengalaman (jam terbang) konselor dapat mengatasinya. Orang yang sudah puluhan tahun praktek sebagai konselor tentu dapat menemukan caranya.

Client-Centered Counseling Konselor berusaha membantu klien agar tumbuh selaras dengan arah yang diinginkan oleh klien itu sendiri. Dalam hal ini, klien ingin mengaktualisasikan potensi-potensi dirinya dan mengembangkan konsep diri secara positif. Konselor harus menghindari upaya evaluasi (penilaian) dan diagnosis. Dengan kata lain, konseling CCC ini tidak perlu dievaluasi dan tidak perlu ada diagnosis. Apa yang baru saja dialami klien bukan hal yang penting. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi pada klien sekarang dan di tempat ini.Mari kita bandingkan dengan konseling direktif, di mana konselor melakukan evaluasi dan diagnosis.

Di dalam konseling CCC ini tidak ada evaluasi dan tidak ada diagnosis. Tidak ada evaluasi maksudnya proses dan hasil konseling tidak perlu kita nilai, tidak perlu kita koreksi. Segalanya terserah klien, yang penting klien merasa ada sahabat untuk berbicara, sahabat untuk cur-hat. Tidak perlu ada diagnosis, artinya kita (konselor) tidak perlu melakukan penyimpulan tentang jenis masalah yang dialami klien. Konselor tidak perlu menentukan jenis masalah apa yang dialami klien.

Yang penting klien kita layani, kita dengarkan, kita tanggapi Secara positif. Evaluasi dan diagnosis hanya akan menghambat proses konseling CCC ini. Evaluasi dan diagnosis bisa menyebabkan klien tidak puas.Mengapa tidak perlu ada diagnosis? Sebab yang paling tahu masalah klien adalah klien sendiri, bukan konselor. Salah-salah, diagnosis yang dilakukan konselor tidak sesuai dengan masalah yang sebenarnya dialami atau dirasakan oleh klien.Apa yang baru saja dialami klien bukan hal yang penting, maksudnya bahwa yang lebih penting apa yang terjadi pada klien pada saat ini, di ruang konseling ini.

Yang dialami klien tadi pagi, kemarin malam, atau seminggu yang lalu mungkin oleh tidak lagi dirasakan sebagai masalah. Yang benar-benar dirasakan oleh klien adalah masalahnya detik ini di ruang konseling ini.Karakter Konselor CCCKlien akan mengalami perubahan jika 4 hal berikut ini dilakukan oleh konselor. Dengan kata lain, klien akan mengalami perubahan yang berarti jika konselor memiliki karakter berikut ini.

Genuineness (ketulusan). Konselor berusaha terbuka terhadap pengalaman-pengalamannya sendiri. Konselor tidak boleh menutup-nutupi pengalamannya sendiri. Jika konselor berhasil bersifat tulus, Sehingga klien tidak merasa curiga terhadap konselor. Klien akan merasa bebas untuk menjadi dirinya sendiri.Emotional acceptance (penerimaan secara emosional). Mungkin klien pernah mengalami perasaan was-was atau tidak percaya. Untuk memantapkan perasaan aman pada diri klien, sehingga klien dapat menggali pengalaman-pengalamannya sendiri dan emosinya secara terbuka, konselor harus menerima apa saja tentang klien.

Tidak perlu memberikan syarat apapun terhadap klien.Moment-to-moment understanding (pemahaman satu per satu). Konselor hendaknya mampu sebagai sebuah cermin perasaan klien. Mereka (konselor) mengucapkan kata-kata yang kadang-kadang merupakan ungkapan dari perasaan klien. Dengan kata lain, konselor hendaknya memahami betul perasaan klien.Bagaimana hubungan antara klien dan konselor dapat membawa perubahan pada klien? Rogers percaya bahwa hubungan konselor dan klien diawali dengan pertentangan, bagaikan kutup utara dan kutup selatan.

Klien tidak jujur. Mereka tidak memahami atau tidak menyetujui hubungan tersebut. Begitu konselor mau mendengarkan, menerima, dan memahami; klien secara pelan akan dapat hadir sebagai dirinya dan hadir dalam pengalamannya. Mereka dapat minilai perasaan mereka sendiri, pikiran mereka sendiri; yang awalnya dikesampingkan. Penerimaan secara hangat dan positif dari konselor tersebut akan membuat klien merasa terbantu, dan secara perlahan, klien akan mengalami perubahan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar